Bukan Dikendalikan,
Melainkan Memanfaatkan
“cepat bertindak berdasarkan jiwa nasionalisme”
Waktu merupakan sesuatu yang paling kuat di sepanjang peradaban manusia. SIapakah yang dapat melawan ‘kekuatan’ waktu? Siapa yang dapat menghentikan, memperlambat, maupun mempercepat jalannya waktu? Waktu terus berjalan, dan kita ‘dipaksa’ untuk mengikutinya. Mereka yang tidak mampu mengikuti perjalanan waktu, akan sampai pada pada perisitrahatan terakhirnya.
Waktu mengubah segalanya. Ada perubahan yang baik, ada pula yang buruk. Hal itu tergantung kepada subjek yang memanfaatkan ‘kekuatan’ waktu tersebut, yaitu MANUSIA. Saya akan mengambil contoh dari Jepang. Seperti yang kita ketahui, Jepang pernah terpuruk karena perang dunia kedua. Seiring dengan waktu yang berjalan, bangsa Jepang memanjat keluar dari ‘jurang’ dan hasilnya dapat dilihat seperti sekarang ini. Mengapa mereka berhasil? Kunci jawabannya : NASIONALISME. Nasionalisme masyarakat Jepang terbilang tinggi. Bangsa Jepang tidak membiarkan waktu yang ‘mengendalikan’ hidup mereka. Maksudnya, mereka tidak berpasrah diri dan duduk manis pada tempatnya, membiarkan negara Jepang semakin hancur seiring dengan berjalannya waktu. Mereka bertindak berdasarkan jiwa nasionalisme mereka untuk membangun kembali negaranya.
Bagaimana dengan Indonesia? Mari kita kaitkan hal ‘waktu’ ini dengan ‘nasionalisme Indonesia’.
Tengoklah ke belakang, renungkan segala sesuatu yang telah terjadi berkaitan dengan usaha Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan abadi. Pada mulanya setiap penduduk di daerah tidak dapat dikatakan sebagai bangsa. Mengapa? Mereka belum mempunyai toleransi terhadap suku yang berbeda. Tercerai-berai, perang antarsuku, perebutan kekuasaan, dan lain sebagainya. Dari sinilah Belanda menggunakan kelemahan rakyat. Indonesia dijajah oleh Belanda. Indonesia yang sadar akan kelalaiannya pun bangkit. Bibit-bibit nasionalisme tumbuh subur di jiwa mereka. Persatuan dan kesatuan yang kuat serta perasaan cinta Tanah Air telah bersarang dengan padat di jiwa mereka. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan!
Sekarang mari kita menatap ke depan dan membuka mata lebar-lebar. Bandingkan jaman dulu dengan jaman sekarang. Waktu telah mengubah banyak hal. Sekarang ini segala sesuatu telah berubah menjadi modern. Budaya luar negeri dengan mudahnya masuk ke Indonesia dan menghipnoptis kita untuk mengikutinya. Memang, dengan kedatangan budaya-budaya luar negeri tersebut dapat memberikan pengaruh yang baik. Akan tetapi, jangan sampai menghilangkan nasionalisme kita, bangsa Indonesia.
Seiring dengan berjalannya waktu dari jaman tua sampai sekarang, nasionalisme Indonesia sudah terkikis dengan keberadaan budaya asing ini. Jiwa nasionalisme sudah tipis, seperti sehelai kertas. Hanya sebagian kecil dari bangsa Indonesia yang memiliki jiwa nasionalisme. Masih banyak rakyat Indonesia yang lebih bangga bila mempunyai barang-barang dari luar negeri, daripada buatan negaranya sendiri. Belum lagi persatuan dan kesatuan yang utuh belum sepenuhnya dimiliki oleh Indonesia. Tidak percaya? Sekarang jawab pertanyaan ini, masih adakah rasisme di Indonesia? Jawabannya masih ada, walau tidak semarak dulu. Misalnya, antara orang Cina dengan pribumi.
Tidakkah disadari bahwa nasionalisme merupakan kunci emas untuk menyusul kehebatan negara-negara maju? Apakah hanya sekedar tahu karena pernah dipelajari di pelajaran PKN? Nilai ulangan dapat diekspresikan dengan “Wah…!!”. Akan tetapi, penerapannya diekspresikan dengan “Huuuu…”
TIdak jarang orang berpendapat, “Indonesia sudah bobrok, makin lama makin hancur. Sudah hopeless.” Hopeless menandakan sudah tidak ada harapan lagi. Apabila kalian juga berpendapat seperti ini, berarti kalian membiarkan diri kalian dikendalikan oleh waktu. Bila sang Subjek tidak melakukan apa pun untuk merubah ke suatu hal yang lebih baik, waktu tidak akan menunggui sang Subjek dan bertanya, “Kapan mau bertindak? Sebelum kau bertindak, aku tidak akan berjalan. Aku menungguimu.” Waktu akan terus berjalan tanpa mempedulikan sisi kiri-kanannya yang berteriak untuk diperlambat atau diberhentikan. Waktu yang mengatur kehidupan. Bukan manusia yang mengatur kehidupannya sendiri. Ironiskah? Ya. Padahal manusia sudah diberi kebebasan untuk menjalankan kehidupannya sendiri oleh Tuhan. Janganlah kita menjadi patung yang diam saja pada tempatnya, membiarkan Indonesia semakin bobrok seiring dengan jalannya waktu. Kitalah yang memanfaatkan waktu, bukan dikendalikan.
Mari kita bertindak! Tumbuhkan nasionalisme Anda!
Tidak tahu tindakan nasionalisme?
Ingatlah kembali apa yang sudah diajarkan oleh guru PKN Anda !